Sabtu, 05 Februari 2011

238 Pulau di Anambas Kaya Dengan Hasil Alam


Kabupaten Kepulauan Anambas, kini resmi memiliki logo dan motto sendiri setelah disahkan oleh DPRD pada empat bulan silam, melalui rapat paripurna DPRD di gedung BPMS Tarempa, yang juga dihadiri oleh seluruh fraksi DPRD KKA, Pj Bupati Yusrizal, para pimpinan SKPD, dan juga tokoh masyarakat.

Logo yang sarat makna itu merupakan merupakan hasil penggabungan dari karya Said M Damrie dan Alkaf Sandra Bonga. Keduanya adalah peraih juara pertama dan kedua dalam sayembara lambang daerah yang digelar sejak beberapa bulan lalu. Lambang dengan warna dasar biru ini memiliki gambar utama Jongkong dengan layar mengembang serta sebilah keris. Sedangkan pada pitanya tertulis motto 'Kayuh Serentak Langkah Sepijak'.


Dengan telah disahkannya logo tersebut maka KKA resmi akan menggunakan logonya sendiri dalam simbol-simbol kedaerahan baik yang melekat pada seragam PNS dilingkungan Pemkab. Kep. Anambas maupun pada baliho-baliho, kopr surat, dan lain sebagainya yang selama ini Anambas masih menggunakan logo kabupaten induk Natuna.

Pengesahan logo Anambas juga bertepatan dengan tanggal pengesahan UU No. 33 Tahun 2008 Tentang Pembentukan Kabupaten Kepulauan Anambas di Provinsi Kepulauan Riau dua tahun silam. Sehingga pada tanggal 24 Juni tersebut selain dilangsungkan paripurna pengesahan logo, pada malam harinya juga dilangsungkan dzikir dan wirid bersama di Masjid Jami' Baiturrahim Tarempa dalam rangka memperingati pengesahan UU KKA.

Salah putra kelahiran terempa, pada 14 Desember 1983 silam, Adies Saputra angkat bicara. Dia mengharapkan agar logo Anambas yang sarat makna itu tidak hanya sekadar menjadi lambang biasa atau simbol saja tetapi benar-benar menjadi pemacu spirit kita bersama dalam menyongsong pembangunan Anambas kedepan.

"Saya harap ini logo ini bukan hanya menjadi simbol belaka, namun benar-benar bisa menjadi pemacu spirit bersama bagi semua masyarakat Anambas dalam menyongsong pembangunan Anambas kedepan," Ujarnya.

Lebih lanjut, Kabupaten Kepulauan Anambas (KKA) adalah sebuah kabupaten maritim di laut China Selatan yang berada dalam wilayah administratif provinsi Kepulauan Riau. Secara geografis KKA berada pada posisi 1 derajat 30 menit - 3 derajat 30 menit Lintang Selatan dan 105 derajat 20 menit – 106 derajat 50 menit Bujur Timur. Sedang luas wilayahnya sekitar 47.040,6 Km persegi, dengan wilayah daratnya hanya seluas 996,6 Km persegi sementara sisanya adalah lautan.

Sebagai kabupaten maritim wilayah Anambas meliputi banyak pulau, tak kurang dari 238 buah pulau besar dan kecil berada dikawasan ini, sekitar 212 pulau diantaranya adalah pulau-pulau yang belum berpenghuni. Lima buah pulau diantaranya merupakan pulau-pulau terluar yang menjadi batas ukur NKRI. Anambas berbatasan langsung dengan perairan internasional dan negara tetangga. Sebelah utara KKA berbatasan dengan laut China Selatan/ Vietnam dan Kamboja, sebelah selatan dengan laut Natuna, sebelah barat dengan Semenanjung Malaysia serta sebelah timur berbatasan dengan kabupaten Natuna.

Gugusan kepulauan Anambas dibentuk sebagai sebuah daerah otonom pada tanggal 24 Juni 2008 berdasarkan UU No. 33 tahun 2008, sebagai pemekaran dari kabupaten Natuna. Wilayah KKA meliputi tujuh kecamatan yaitu kecamatan Siantan yang berpusat di Terempa, kecamatan Palmatak berpusat di Tebang, kecamatan Siantan Selatan berpusat di Air Bini, kecamatan Siantan Timur berpusat di Nyamuk, kecamatan Siantan Tengah berpusat di Air Asuk, kecamatan Jemaja berpusat di Letung, serta kecamatan Jemaja Timur berpusat di Ulu Maras. Sedang ibukota KKA berkedudukan di Terempa-pulau Siantan. Sampai dengan Januari 2010 penduduk KKA berjumlah 57. 541 jiwa. Lebih dari 65 persennya berprofesi sebagai nelayan. 8 persen sebagai petani kebun, 4-5 persen sebagai pedagang, dan sisanya adalah PNS dan pekerja pada perusahaan Migas yang beroperasi di laut Anambas.

Mayoritas penduduk Anambas adalah berasal dari rumpun Melayu dan beragama Islam. Namun masyarakat Melayu di Anambas sangat menjunjung tinggi dan menghargai keragaman. Delapan persen populasi KKA yang merupakan etnis Tionghoa dapat hidup membaur dan menjalankan aktivitas keagamaan mereka dengan leluasa. Selain suku Melayu dan etnis Tionghoa, KKA juga dihuni oleh suku Bugis, Jawa, Minang, Batak, dan Sunda-Banten.

Wilayah KKA merupakan daerah penghasil migas. Tiga perusahaan utama yang mengelola Migas di laut Anambas adalah Conoco-Philips, Primeir Oil, dan Star Energi. Selain dilaut ketiga perusahaan tersebut juga mengandalkan aktivitasnya di bascamp mereka yang terletak di desa Payalaman, kecamatan Palmatak.

Selain Migas KKA juga memiliki sejumlah objek wisata yang amat potensial untuk dikembangkan. Diantaranya adalah objek wisata Air Terjun Temburun dan Pantai Padang Melang. Air Terjun Temburun terletak dipulau Siantan. Bentuknya yang bertingkat tujuh dengan debit air yang tak pernah kering meski dimusim kemarau, serta posisinya yang menghadap langsung ke pantai menjadikan panorama Air Terjun Temburun sungguh mempesona. Sedang Pantai Padang Melang yang terletak di kecamatan Jemaja juga tak kalah eloknya. Pasir putih menghampar sepanjang 7 Km, dengan pepohonan rindang yang menambah eksotik panorama sekitar. Selain kedua objek pariwisata tersebut KKA juga memiliki puluhan pulau kecil dengan bebatuan karang dan panorama bawah laut yang yang sangat cocok untuk aktivitas diving dan snorkeling, juga untuk berselancar ria.

Sebagai sebuah kabupaten baru, KKA sedang bergegas dan berbenah diri untuk mengejar ketertinggalan. Namun melihat potensi yang dimiliki Anambas jika dikelola secara benar daerah ini tentu sangat berpeluang
menjadi daerah otonom yang mandiri, maju, dan sejahtera. (red)

Sumber :
http://www.batamtimes.com/anambas/1447-238-pulau-di-anambas-kaya-dengan-hasil-alam-.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar